MAKALAH AGAMA
ISLAM
AGAMA DAN
MANUSIA
D
I
S
U
S
U
N
OLEH
KELOMPOK 1
NAMA :
§ Hardiansyah (15130000015)
§ Novia
Anjellia (15130000024)
§ Sri
Dewi Tarigan (15130000034)
Fakultas Teknik
dan Ilmu Komputer
Kelas Siistem
Informasi A (Pagi)
Dosen Pembimbing
: ENDRI DORES. MEI
Tahun Ajaran :
2015/2016
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah swt yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayahNya
sehingga kami dapat menyelesaikan pengerjaan makalah yang berjudul ”Manusia dan
Agama”. Makalah ini diajukan guna
memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam.
Pada
kesempatan ini, kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah
membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Kami
sebagai penyusun menyadari bahwa dalam
penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari para pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan informasi dan bermanfaat untuk
pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
Medan, 06 Oktober 2015
Penyusun
DAFTAR ISI
COVER ……………………………………………………….. I
KATA
PENGANTAR ……………………………………….. II
DAFTAR
ISI …………………………………………………. III
BAB I : PENDAHULUAN
A.Latar
Belakang Masalah ………………………………….. 4
BAB II : PEMBAHASAN
A.
MANUSIA
- Pengertian manusia …………………………………….. 5
- Ciri – ciri manusia ……………………………………... 5
- Tujuan penciptaan manusia
- Kedudukan manusia
B.
HAKIKAT MANUSIA
- Hakikat manusia secara umum ………………………… 7
- Hakikat manusia menurut Al- Qur’an …………………. 8
C.
AGAMA
- Pengertian agama ………………………………………. 8
- Syarat – syarat agama ………………………………….. 8
- Unsur – unsur agama …………………………………... 9
- Fungsi agama …………………………………………... 9
D.
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN AGAMA …………..9
BAB III PENUTUPAN
A.
Kesimpulan ………………………………………………….. 10
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………….
11
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Manusia
dan Agama merupakan masalah yang sangat penting, karena keduanya mempunyai
pengaruh besar dalam pembinaan generasi yang akan datang, yang tetap beriman
kepada Allah dan tetap berpegang pada nila-nilai spiritual yang sesuai dengan
agama-agama samawi (agama yang datang dari langit ataua gama wahyu).
Agama
merupakan sarana yang menjamin kelapangan dada dalam individu dan menumbuhkan
ketenangan hati pemeluknya. Agama akan memelihara manusia dari penyimpangan,
kesalahan dan menjauhkannya dari tingkah laku yang negatif. Bahkan agama akan
membuat hati manusia menjadi jernih halus dan suci. Disamping itu, agama juga
merupakan benteng pertahanan bagi generasi muda muslim dalam menghadapi
berbagai aliran sesat.
Agama juga mempunyai peranan penting dalam pembinaan akidah dan akhlak
dan juga merupakan jalan untuk membina pribadi dan masyarakat yang
individu-individunya terikat oleh rasa persaudaraan, cinta kasih dan tolong
menolong.
BAB II
PEMBAHASAAN
A.
MANUSIA
1. Pengertian Manusia dalam
Alqur’an
Istilah kunci yang digunakan
Al-Qur’an untuk menunjuk pada pengertian manusia menggunakan kata-kata basyar, al-insan, dan ann-nas.
Kata basyar menunjuk pada pengertian manusia sebagai makhluk biologis
(QS Ali ‘Imran :47) tegasnya memberi pengertian kepada sifat biologis manusia,
seperti makan, minum, hubungan seksual dan lain-lain.
Kata al-insan, Pertama al-insan dihubungkan dengan khalifah sebagai penanggung
amanah (QS Al-Ahzab :72), kedua al-insan
dihubungankan dengan predisposisi negatif dalam diri manusia misalnya sifat
keluh kesah, kikir (QS Al-Ma’arij :19-21) dan ketiga al-insan dihubungkan dengan proses penciptaannya yang
terdiri dari unsur materi dan nonmateri (QS Al-Hijr :28-29). Semua konteks al-insan ini menunjuk pada sifat-sifat
manusia psikologis dan spiritual.
Kata an-nas dalam Al-Qur’an mengacu kepada manusia sebagai makhluk
sosial dengan karateristik tertentu misalnya mereka mengaku beriman padahal sebenarnya
tidak (QS Al-Baqarah :8)
Dari uraian ketiga makna untuk
manusia tersebut, dapat disimpulkan bahwa manusia adalah mahkluk biologis, psikologis
dan sosial. Ketiganya harus dikembangkan dan diperhatikan hak maupun
kewajibannya secara seimbang dan selalu berada dalam hukum-hukum yang berlaku (sunnatullah).
Menurut agama Islam itu sendiri ,manusia adalah
makhluk ciptaan Allah yang paling mulia diantara makhluk ciptaan-Nya yang lain,
yang dipercaya untuk menjadi khalifah dimukabumi.
2. Ciri – ciri Manusia
Manusia dibandingkan makhluk lain mempunyai
ciri, antara lain, ciri utamanya adalah :
1. Makhluk yang paling unik, dijadikan
dalam berbentuk baik, ciptaan tuhan yang paling sempurna. “Sesungguhnya kami
telah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At tin [95]:4)
2.
Manusia
diciptakan tuhan untuk menjadi khalifah nya di bumi. Hal itu dinyatakan Allah dalam
firman-nya. Di dalam surat al-baqarah [2]:30
3.
Secara
individual manusia bertanggung jawab atas segala perbuatannya dalam firman-nya
yang kini dapat dibaca dalam Al-Quran surat At-Thur [52]:21 “Setiap manusia
terikat (dalam arti bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.”
4. Berakhlak. Berakhlak adalah ciri
utama manusia dibandingkan makhluk lainnya. Artinya, manusia adalah makhluk
yang diberi Allah kemampuan untuk membedakan yang baik dengan yang buruk.
3. Tujuan Penciptaan Manusia
Manusia
diciptakan oleh Allah agar ia beribadah kepada-Nya. Pengertian ibadah di sini
tidak sesempit pengertian ibadah yang dianut oleh masyarakat pada umumnya,
yakni kalimat syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji tetapi seluas pengertian
yang dikandung oleh kata memperhambakan dirinya sebagai hamba Allah. Berbuat sesuai dengan kehendak dan
kesukaan (ridha) Nya dan menjauhi apa yang menjadi larangan-Nya
4. Kedudukan Manusia
Kedudukan manusia yang dimaksud di
sini adalah konsep yang menunjukkan hubungan manusia dengan Allah dan dengan
lingkungannya. Ayat-ayat yang relevan dengan masalah tersebut adalah antara
lain :
1. Q.S.Fathir,
35/43:39
Ayat 39-41: Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengangkat
manusia sebagai khalifah di bumi dan penjelasan tentang keesaan Allah dan
kekuasaan-Nya.
هُوَ
الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلائِفَ فِي الأرْضِ فَمَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ وَلا
يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِلا مَقْتًا وَلا يَزِيدُ
الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ إِلا خَسَارًا (٣٩)
“Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi. Barang
siapa kafir, maka (akibat) kekafirannya akan menimpa dirinya sendiri. Dan
kekafiran orang-orang kafir itu hanya akan menambah kemurkaan di sisi Tuhan
mereka. Dan kekafiran orang-orang kafir itu hanya akan menambah kerugian mereka
belaka.”
2. Q.S. Hud,
11/52:61
”Dan kepada kaum Tsamud (Kami
utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, "Wahai kaumku! Sembahlah Allah,
tidak ada bagimu Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Dia telah menciptakanmu
dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan
kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya].
Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat dan memperkenankan (doa hamba-Nya)."
3.
Q.S Az-Zariyat,
51/67:56
1.
Manusia Sebagai Khalifah
Kedudukannya manusia sebagai
khalifah. Dijelaskan bahwa Allah yang menjadikan manusia sebagai khalifah di
muka bumi ini. Penegasan ini mengisyaratkan adanya hubungan antara manusia
dengan Tuhan. Selanjutnya ayat tersebut
juga mengingatkan bahwa siapa yang ingkar, khususnya mengingkari Tuhan yang
telah menjadikan khalifah, maka ia sendiri yang menanggung akibat
pengingkarannya itu berupa kemurkaan Tuhan dan kerugian bagi dirinya sendiri.
2. Manusia Sebagai Pembangun
Kedudukan manusia sebagai pembangun
peradaban berdasarkan firman Tuhan yang telah di kemukakan, yakni
Huwaansya’akum min al-ardh wa’sta’marakumfiha, “Dia telah menghidupkan kamu di
bumi dan memberi kamu kesukaan memakmurkannya (menjadikan kamu sebagai
pembangun kemakuran).”
B. HAKIKAT MANUSIA
Hakikat manusia secara umum adalah sebagai
berikut :
1. Makhluk yang memiliki tenaga
dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
2. Individu yang memiliki sifat
rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.yang
mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol
dirinya serta mampu menentukan nasibnya.
3. Makhluk yang dalam proses menjadi
berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya.
4. Individu yang dalam hidupnya
selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri,
membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati
5. Suatu keberadaan yang berpotensi
yang perwujudanya merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas
6. Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah
makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.
7. Individu yang sangat dipengaruhi
oleh lingkungan turutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang
sesuai dengan martabat kemanusiaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.
8. Makhluk yang berfikir. Berfikir
adalah bertanya, bertanya berarti mencari jawaban, mencari jwaban berarti
mencari kebenaran.
Hakikat Manusia Menurut Al-Qur’an
Al-Qur’an memandang manusia
sebagaimana fitrahnya yang suci dan mulia, bukan sebagai manusia yang kotor dan
penuh dosa.
Al-Quran justru memuliakan manusia sebagai
makhluk surgawi yang sedang dalam perjalanan menuju suatu kehidupan spiritual
yang suci dan abadi di negeri akhirat, meski dia harus melewati rintangan dan
cobaan dengan beban dosa saat melakukan kesalahan di dalam hidupnya di dunia
ini. Bahkan manusia diisyaratkan sebagai makhluk spiritual yang sifat aslinya
adalah berpembawaan baik (positif, haniif).
C.
AGAMA
1. Pengertian
Agama
Agama
menurut bahasa sansekerta, agama berarti tidak kacau (a=tidak gama=kacau)
dengan kata lain, agama merupakan tuntunan hidup yang dapat membebaskan manusia
dari kekacauan. Didunia baratter dapat suatu istilah umum untuk pengertian
agama ini, yaitu: religi, religie, religion, yang berarti melakukan suatu
perbuatan dengan penuh penderitaan atau mati-matian , perbuatan ini berupa
usaha atau sejenis per ibadatan yang dilakukan secara
berulang ulang.
Agama
menurut Kamus Besar
Bahasa
Indonesia adalah
system yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan
Yang Maha kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan
manusia serta lingkungan nya.
Istilah lain bagi agama ini yang berasal dari bahasa arab, yaitu addiin yang berarti: hukum, perhitungan, kerajaan, kekuasaan,
tuntutan, keputusan dan pembalasan. Kesemuanya itu memberikan gambaran bahwa “addiin” merupakan pengabdian
dan penyerahan, mutlak dari seorang hamba kepada Tuhan penciptanya dengan
upacara dan tingkah laku tertentu, sebagai manifestasi ketaat anter sebut (Moh.Syafaat,1965).
Dan
secara umum, Agama adalah suatu system ajaran tentang Tuhan, dimana
penganut-penganut nya melakukan tindakan-tindakan ritual, moral atau social atas dasar
aturan-aturan-Nya.
2. Syarat-Syarat Agama
a. Percaya dengan adanya Tuhan
b. Mempunyai
kitab suci sebagai pandangan hidup umat-umatnya
c. Mempunyai
tempat suci
d. Mempunyai
Nabi atau orang suci sebagai panutan
e. Mempunyai
hari raya keagamaan
3. Unsur-Unsur Agama
Menurut
Leight, Keller dan Calhoun, agama terdiri dari beberapa unsur pokok:
1. Kepercayaan agama, yakni suatu
prinsip yang dianggap benar tanpa ada keraguan lagi
2. Simbol agama, yakni identitas agama
yang dianut umatnya.
3. Praktik keagamaan, yakni hubungan
vertikal antara manusia dengan Tuhan-Nya, dan hubungan horizontal atau hubungan
antarumat beragama sesuai dengan ajaran agam.
4. Pengalaman keagamaan, yakni berbagai
bentuk pengalaman keagamaan yang dialami oleh penganut-penganut secara pribadi.
5. Umat beragama, yakni penganut
masing-masing agama
4. Fungsi Agama
· Sumber pedoman hidup bagi individu
maupun kelompok
· Mengatur tata cara hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia.
· Merupakan tuntutan tentang prinsip
benar atau salah
· Pedoman mengungkapkan rasa
kebersamaan
· Pedoman perasaan keyakinan
· Pengungkapan estetika (keindahan)
· Memberikan identitas kepada manusia
sebagai umat dari suatu agama
D. HUBUNGAN MANUSIA DENGAN AGAMA DALAM KEHIDUPAN
Agama dan kehidupan
beragama merupakan unsur yang tak terpisahkan dari kehidupan dan sistem budaya
umat manusia. Sejak awal manusia berbudaya, agama dan kehidupan beragama
tersebut telah menggejala dalam kehidupan, bahkan memberikan corak dan bentuk
dari semua perilaku budayanya. Agama dan perilaku keagamaan tumbuh dan
berkembang dari adanya rasa ketergantungan manusia terhadap kekuatan ghaib yang
mereka rasakan sebagai sumber kehidupan mereka. Mereka harus berkomunikasi
untuk memohon bantuan dan pertolongan kepada kekuatan ghaib tersebut, agar
mendapatkan kehidupan yang aman, selamat dan sejahtera. Tetapi “apa” dan
“siapa” kekuatan ghaib yang mereka rasakan sebagai sumber kehidupan tersebut,
dan bagaimana cara berkomunikasi dan memohon peeerlindungan dan bantuan
tersebut, mereka tidak tahu. Mereka hanya merasakan adanya kebutuhan akan
bantuan dan perlindunganya. Itulah awal rasa agama, yang merupakan desakan dari
dalam diri mereka, yang mendorong timbulnya perilaku keagamaan. Dengan demikian
rasa agama dan perilaku keagamaan (agama dan kehidupan beragama) merupakan
pembawaan dari kehidupan manusia, atau dengan istilah lain merupakan “fitrah”
manusia.
BAB
III
PENUTUP
KESIMPULAN
Ø Sehingga dapat di
simpulkan bahwa agama sangat di perlukan oleh manusia sebagai pegangan hidup
sehingga ilmu dapat menjadi lebih
bermakna.
Ø Manusia hakikatnya adalah
makhluk biologis, psikolsogi dan sosial yang memiliki dua predikat statusnya
dihadapan Allah sebagai Hamba Allah dan fungsinya didunia sebagai khalifah Allah), mengantur alam dan
mengelolanya untuk mencapai kesejahteraan kehidupan manusia itu sendiri dalam
masyarakat dengan tetap tunduk dan patuh kepada sunnatullah. Rasa agama dan
perilaku keagamaan (agama dan kehidupan beragama) merupakan pembawaan dari kehidupan
manusia, atau dengan istilah lain merupakan “fitrah” manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Drs.Fathoni
Ahmad Miftah, M.Ag, Pengantar Studi Islam, 2001, Semarang, Gunung Jati.
Supadie Didiek Ahmad,dkk. Pengantar Studi Islam, 2011 , Jakarta,
Rajawali Pers.
Muhaiman Dimensi-Dimensi Studi Islam, 1994, Surabaya,Karya Abditama
Syukur Amin Prof. Dr. H. M., MA, Pengantar Studi Islam, 2010,
Semarang, Pustaka Nuun
Buku Pendidikan Agama Islam
Prof. H. Mohammad Daud Ali, S.H.
Download Filenya disni







0 komentar:
Post a Comment